Postingan

Isak

Di saat kamu merasa alam tidak mendukungmu, ingatlah bahwa setidaknya kamu punya jiwamu sendiri di dalam tubuhmu. Jiwa itu yang mendukungmu sendiri. Kamu harus kuat. Bukan dunia yang mengharuskanmu jadi kuat, tapi kamu sendiri. Dan ingat bahwa kamu tak pernah sendirian. Mungkin saja, itu hanya sekedar perasaanmu. "perasaaan" yang hanya sebuah ilusi. Yang hanya ada di negeri kahyangan, khayalan yang tak berwujud.  Saat merasa dunia tidak adil, biarkanlah. Memang seperti itu dunia. Dunia yang dihinggapi lalat-lalat busuk. Dunia yang dipenuhi manusia-manusia tanpa adab. Setidaknya, makhluk lain tak demikian. Alam itu adil. Ada yang merusak ada yang dirusak, ada yang memperbaiki. Ada yang menyakiti ada yang disakiti, ada yang mengobati. Tapii... ada kalanya obat itu tak ditemukan. Dan, yang harus kamu lakukan hanyalah menerimanya. Terima saja semua yang alam berikan. Terima saja... karena memang itulah kehendak alam untukmu.  Dan, sebenarnya kamu pun adalah bagian dari alam itu s...

Kebenaran?

Apakah sejatinya warna suatu benda itu sama seperti apa yang kita lihat? Pernahkan bertanya demikian? Apakah daun itu murni berwarna hijau?  Pada kenyataannya, daun itu hanya sebagian kecil, sangat kecil, dari seluruh objek yang ada di alam semesta. Di mana setiap objek yang terkena cahaya/ energi, akan menyerap dan memantulkan gelombang. Daun didominasi oleh gelombang infra merah, tapi mata kita tak mampu melihatnya. Maka dari itu, yang dapat kita lihat hanyalah gelombang tampak saja, yaitu kebanyakan hijau. Kalau saja mata kita mampu melihatnya, daun itu warnanya tampak merah.  Tidak selalu yang terlihat oleh mata kita itu adalah suatu kebenaran. Bisa saja itu hanya pantulan gelombang. Atau sekedar ilusi? Entahlah. Yang tak terlihat itu bukan berarti tak ada, tapi bisa jadi karena kita tak mampu melihatnya. Kebenaran itu pun, manusia sendiri yang mendefinisikannya. Sejatinya, apa kebenaran yang hakiki itu? Apakah ada sesuatu di semesta ini yang merupakan suatu kebenaran? ~ju...

Sesal

Kenapa, Saat ini barulah aku sadar Ada yang janggal dalam diriku Dulu, Aku tak sadar Yang terucap dari lidah ini, malah jadi bumerang Kalau saja dulu... Aku tak ceroboh, tak ikuti apa kata egoku Tak akanlah jarak ini begitu jauh Saling tatap pun tak berani Yang semula mudah jadi susah, erat jadi renggang Sampai segan, bahkan enggan Ternyata ini, yang namanya sesal... 

Gundah

Aku tahu aku ada Tapi aku rasa dia tak merasa bahwa aku ada Dia tahu aku ada Tapi aku rasa dia tak merasa bahwa aku berguna Aku tahu dia ada Tapi aku rasa tak ada rasa percaya Kenapa rasa selalu ikut campur di antara kepastian  Membuat keabsolutan menjadi keragu-raguan Membangun kegundahan yang menyerabut, menjalar ke seluruh jiwa Ketika ada menjadi tidak ada karena rasa,  ketika kepastian diragukan karena kepercayaan, ketika fakta dikalahkan oleh opini,  ketika objektivitas dikalahkan oleh subjektivitas Itulah dunia, cara kerja alam semesta Untuk apa ada, jika tak ada rasa kasih, tak ada rasa percaya Rasa tak mengambil alih raga, hanya saja mendampinginya.  .

Nostalgia(?)

Tak tahu mengapa. Tiba-tiba saja jari-jemari ini tak kuasa menahan rasa ingin memencet tombol-tombol huruf di keyboard dan merangkainya menjadi kata-kata penuh arti. Jadilah aku menulis di blog ini. Aku sudah berada di usia yang tidak remaja lagi, 20 tahun! Aku sudah setua itu di samping sifatku yang masih seperti seorang remaja. Masih plin-plan, belum menemukan apa yang sebenarnya aku inginkan, dan aku merasa belum mencapai apapun di usiaku ini. Sudah hampir memasuki semester 4. Dan... semester 3ku..yahh, tidak semanis yang kuharapkan. Di semester ini, aku merasa masih belum menemukan diriku. Sebenarnya siapa aku? Apa yang aku inginkan? dan apa pula yang aku cari di dunia ini? Pikiranku benar-benar kosong tentang itu semua. Memilih jurusan Teknik Geodesi pun, sebenarnya aku masih tak ingat mengapa aku memilih jurusan ini waktu di kelas 12 dulu. Konyol memang. Tapi aku rasa mungkin memang ini yang Tuhan tunjukkan untukku.  Mungkin tadi adalah sedikit curahan hatiku di usiaku saat i...