Postingan

22 y.o

I'm 22 y.o now. So, what?? Masih sama,  belum ada sesuatu yang benar-benar berubah kecuali waktu.  Hanya saja, aku lebih bersyukur untuk setiap hari yang kujalani. Tidak muluk-muluk, hanya menjalani yang seharusnya dijalani. Tidak menekan diri sendiri, tetap berjalan dengan tenang dan yakin semua akan selesai dengan baik, walaupun overthinking tetap terkadang "kambuh". Semester 7, memang mulai ada tekanan dari berbagai pihak. Keluarga, teman, bahkan terkadang ada waktu dimana aku merasa tertekan oleh orang-orang sukses di luar sana, dan mulai membandingkan diriku dengan mereka.  Di tahun ini, aku mencoba lebih ikhlas. Ikhlas menerima dan melepaskan. Menerima jalan yang sudah kupilih sendiri dengan segala lika-liku di dalamnya. Melepaskan sesuatu yang pernah membuatku bahagia. Berusaha menikmati hidupku saat ini.  ~salam

Sadar Kembali

Saat-saat yang berat. Saat seperti inilah aku selalu ingat bahwa aku harus kuat, sabar, dan berjuang semampuku. Menjalani setiap hal dengan sebaik mungkin. Walaupun selama bertahun-tahun aku selalu bertanya kenapa hidupku seperti ini. Sempat merasa minder tidak memiliki keluarga dengan kondisi yang normal. Ibu yang sakit sejak aku sangat kecil, sampai lupa bagaimana ibuku ketika masih sehat. Aku punya ibu, tapi aku tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu sejak kurang lebih 18 tahun yang lalu hingga saat ini di umurku yang ke-21. Makan masakan ibu? Aku belum pernah merasakannya seumur hidupku. Namun setidaknya aku yakin di dalam hati kecilnya, ibu tetap menyimpan kasih sayang untukku, walaupun sekecil butiran debu, tapi aku yakin itu. Dulu saat usiaku remaja, sering sekali kudengar pepatah "Surga ada di bawah telapak kaki Ibu", namun aku selalu menyangkalnya, karena bagiku Bapak lah orang tuaku, ayah sekaligus ibu bagiku. Aku yang menjaga dan merawat ibu termasuk meman...

Thoughts

Senangnya teringat masa kecil. Masa dimana tak kenal rasa minder. Tiap hari hanya main, tertawa, dan terkadang menangis karena hal kecil. Saat dimana tak mengerti beban hidup. Punya banyak imajinasi yang seakan nyata.  Hari ini aku menatap awan di langit. Terkadang ada burung terbang bebas. Humm, betapa bebasnya burung itu. Aku juga ingin terbang menembus awan. Merasakan bebasnya udara di atas sana. Tak ingin terlihat orang lain.  Sayangnya, pikiranku tak sebebas itu. Selalu saja memikirkan banyak hal dengan semua tuntutan yang ada. Aku belum menemukan diriku.

Ikhlas

Hari ini, aku mendapatkan pelajaran berharga. Ketika aku harus mengorbankan sesuatu yang sudah hampir kuraih, keikhlasan sangat sulit untuk datang. Menjadikan kekecawaan dalam hatiku menjadi semakin besar dan berat. Seakan aku tak sanggup lagi berdiri menatap langit. Seakan kepalaku tak bisa menghadap melihat cerahnya langit siang ini. Tangisku sulit untuk berhenti. Kekecewaan ini sangat dalam. Bukan orang lain yang memunculkan kecewa ini, tapi diriku sendiri.  Mimpi dan keinginanku itu, sudah ada di genggaman tanganku, tinggal membereskan beberapa hal, aku sudah mendapatkannya. Tapi Tuhan berkata lain. Bahkan diriku sendiri, yang membuang sesuatu di genggamanku itu. Tapi kurasa, memang ini yang harus kujalani, memang inilah jalanku. Terlebih lagi, ada jalan lain untuk ku injak. Banyak kesempatan lain yang masih bisa kujemput.  Terkadang, mengorbankan sesuatu itu memang berat, tapi bisa jadi itu menjadi awal kesempatan dan mimpi baru untuk datang. Jika mereka tak datang, maka ...

Keadaan

Hai, namaku Kiku. Aku hanyalah seseorang yang ingin hidup normal. Tapi ternyata memang banyak hal di dunia ini yang ada di luar kendaliku. Banyak sekali masalah yang datang tak kunjung selesai. Banyak sekali cobaan yang dialami. Orang-orang itu,, sebetulnya apa yang mereka permasalahkan dengan hidupku dan keluargaku. Padahal kami tak pernah sekalipun membenci mereka. Tapi mereka malah membuat kami menderita seperti ini. Mungkin mereka sedang tertawa saat ini. Hati kami betul-betul sakit. Bahkan pikiran dan fisik kami terkena imbasnya. Mereka menggunakan cara-cara kotor untuk membuat kami menderita. Cara yang tak bisa terlihat oleh orang biasa seperti kami. Aku selalu berusaha menjadi orang baik. Walau seseorang membenciku, aku tidak akan pernah sekalipun membencinya. Tapi kami perlu bertahan hidup. Kami tidak membenci, sama sekali tidak. Yang kami lakukan hanyalah memikirkan cara untuk bertahan hidup di situasi saat ini. Awalnya kami biarkan mereka begitu saja, dan kami hanya berdoa. T...

Kendali

Beberapa hari yang lalu, ada pelajaran berharga. Selama ini aku tak menyadari, bahwa banyak orang di sekelilingku yang peduli dan tulus. Saat perasaanku sempat kacau dan pada akhirnya aku tak kuat menanggungnya sendiri, pada akhirnya aku butuh teman bicara untuk mendapatkan ketenangan. Dulu aku tak pernah menyadarinya, aku pikir semua kesedihan yang aku rasakan tak perlu kubagi dengan orang lain. Aku mengganggap itu tidak perlu, tidak akan ada gunanya jika aku ceritakan perasaanku saat sedang kacau. Tapi, ternyata aku salah. Sekarang aku paham bahwa tidak semua kesedihan itu harus disimpan sendiri. Terkadang, melampiaskan kesedihan itu justru membuatku lega, tanpa melihat apakah ada orang lain memberikan solusi atau tidak, tapi beban itu menjadi lebih ringan. Entah kenapa memang demikian. Dan lagi, ada beberapa pelajaran yang aku ambil dari orang-orang di sekitarku akhir-akhir ini. Memikirkan perkataan orang lain hanya akan membuatmu repot sendiri.  Setiap orang itu punya pikiranny...

Home Sick

It's my third month in Semarang in this semester and I feel lonely. The next four days, is Eid Mubarak. But I haven't back home yet.  Sedang berada di fase di mana merasa kesepian dan sendiri. Banyak tugas menjadi tercecer, tidak karuan. Hampir saja lupa tujuanku kuliah. Beberapa hari lagi lebaran, dan aku masih terjebak dengan semua urusanku. Entah kenapa, rasanya selalu ingin menangis karena merasa sendiri. Padahal jarak pulang ke rumah hanya perjalanan dua jam, tapi sudah merasa sangat jauh dan rindu keluarga. Aku ingin pulang. Bisa di rumah untuksatu minggu saja akan sangat mengembalikan semangatku.  Dan lagi, mungkin karena akhir-akhir ini kehidupanku agak runyam. Lebih tepatnya, kehidupan keluargaku. Musibah yang tiada habisnya. Bukan, tapi cobaan yang tiada habisnya. Hampir putus asa dan menjalani kehidupan dengan membiarkan mengalir begitu saja. Dengan kata lain, benar-benar tidak ada motivasi hidup lebih baik. Sudah tidak ada keinginan membara seperti dulu. Seperti as...