Postingan

Curhat Dulu (Eps1)

Semester 9, titik yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Dulu, kupikir aku akan menyelesaikan pendidikan ini tepat di semester 8. Ternyata kenyataan berkata lain. Idealis di awal saat memikirkan topik tugas akhir malah menjadi bumerang. Pada akhirnya, tugas yang aku jalani ini berjalan sangat lambat karena banyaknya kekurangan dari diriku sendiri. Dari kemampuanku yang sangat minim itu, banyak masalah muncul. Tapi, sedikit demi sedikit solusi dari masalah yang kuhadapi muncul satu per satu. Semua itu berjalan sangat lambat karena masalah itu merembet ke berbagai hal di dalam diriku. Bingung hingga berakhir pada rasa malas. Satu bulan berlalu sangat cepat tapi progress tugasku sangat amat lambat. Walaupun memang ada masalah di luar tugas yang sedang menimpaku, tapi salahku adalah menjadikan masalah eksternal itu menjadi alasan kemalasanku dan melabeli diriku sendiri dengan sebutan lelah mental. Padahal semua hal yang terjadi atas emosi dalam diriku berada di bawah kendaliku. Entah ...

Buyar

Akhir-akhir ini, aku merasa pergantian waktu sangat cepat. Siang dan malam berganti dengan sangat amat cepat. Tiap pagi, pikiranku berkata "sepertinya matahari baru saja tenggelam, kenapa sudah menampakkan dirinya lagi?" Sedangkan setiap malam yang terlintas di kepalaku adalah "sepertinya matahari baru saja muncul, kenapa sudah menghilang lagi?" Bias seperti itu, kurasakan setiap hari akhir-akhir ini, hingga satu bulan,, ah bukan, bahkan satu tahun terasa begitu singkat. Aku benar-benar ingin segera menyelesaikan tugasku saat ini. Tapi rasanya waktu sangat mengekang. Seakan aku tidak bisa bergerak ke manapun. Kekangan yang sangat menyesakkan itu ditambah dengan tuntutan orang lain, bahkan tututan diri atas diriku sendiri. Ya, diriku sendiri juga lah yang membuatku sesak. Semua itu membuat pikiranku hilang arah, tak terkendali. Pikiranku sibuk kesana-kemari, tidak bisa fokus ke hal yang paling penting dan harus dipikirkan saat ini. Rasanya ingin berteriak sekencang-k...

Gratefulness

Dari sekian banyak manusia, aku didekatkan dengan orang-orang yang membuatku lebih bersyukur akan hidupku. Dari kecil terbiasa merasa hidupku adalah yang paling berat. Semakin hari dan semakin dewasa diriku, mengenal lebih banyak orang yang hidup mereka ternyata tidak lebih baik dariku. Yang tadinya kukira baik-baik saja, ternyata mereka pun merasa hidup mereka berat dan memang sedang tidak baik-baik saja. Semakin mengerti apa arti bersyukur. Hidupku masih jauh lebih baik dari mereka. Memang benar apa kata orang, tidak perlu membandingkan hidupmu dengan hidup orang lain. Tapi terkadang, melihat hidup orang lain itu perlu agar aku bisa lebih bersyukur dan sadar bahwa setiap orang punya lika-liku mereka masing-masing. Memang tidak bisa dibandingkan dan tidak perlu juga membandingkan masalah hidup. Yang perlu adalah menengok sedikit dan menyadari bahwa cobaan hidupku bukanlah satu-satunya yang ada di semesta ini. Semua orang punya cobaan hidup masing-masing.  Hari ini aku lebih bersyu...

Everything is Dinamic

January 9th 2023 ~~ I don't know what to do with my social skill. I'm in countryside right now and I'm really sick of it. There is a program caled KKN in my campus. The thing is, not with the local people, but I don't know what to do with my roomate and my team in this program. It's really hard for me to adapt in this team. Nothing wrong with this team. I'm the one who always overthink about anything. The fact that I naturally always being alone is something I can't deny. I don't know why, but it's hard for me to find at least just one person that really understand me. Someone that fit both with my personality and my thoughts.  February 5th 2023 ~~ Now, I realized that if I accept myself with all of my weaknesses I can adapt in everywhere I went. I just need time to adapt in new place. Sekarang, di minggu ke-5 ternyata bisa nyaman juga di tim ini. Harus disadari bahwa nggak semua hal yang kamu judge di awal itu adalah sesuatu yang mutlak. Nyatanya, s...

Manusia

Memang manusia itu banyak macamnya. Sejauh ini, di perjalanan umurku selama 22 tahun, banyak kutemui orang-orang yang "menarik" haha, bukan, maksudku agak menyebalkan. Katanya anak muda jaman sekarang punya pikiran kritis? open minded ? Noo, nggak semua. Malah aku menjumpai yang sebaliknya. Sebagian besar orang-orang yang kutemui semasa kuliah punya sifat yang tidak banyak kutemui sebelumnya di masa-masa sekolah. Ego setinggi langit, superior, dan yang paling menjengkelkan adalah ngeremehin orang lain yang dia/ mereka anggap lebih rendah darinya. Terutama di bidang akademik. Orang lain yang pengen belajar dan ngerasa nggak bisa malah dibilang goblok . Maaf kalau mungkin kata-kata itu terlalu kasar, tapi memang begitu faktanya. Mereka bahkan tertawa merendahkan, nggak malah ngajarin. Orang-orang kayak gitu nggak kutemuin cuma satu atau dua, tapi banyak di kalangan mahasiswa di sekitarku. Sibuk nyeloteh tentang pentingnya mental health tapi mereka sendiri malah ngejatuhin ment...

22 y.o

I'm 22 y.o now. So, what?? Masih sama,  belum ada sesuatu yang benar-benar berubah kecuali waktu.  Hanya saja, aku lebih bersyukur untuk setiap hari yang kujalani. Tidak muluk-muluk, hanya menjalani yang seharusnya dijalani. Tidak menekan diri sendiri, tetap berjalan dengan tenang dan yakin semua akan selesai dengan baik, walaupun overthinking tetap terkadang "kambuh". Semester 7, memang mulai ada tekanan dari berbagai pihak. Keluarga, teman, bahkan terkadang ada waktu dimana aku merasa tertekan oleh orang-orang sukses di luar sana, dan mulai membandingkan diriku dengan mereka.  Di tahun ini, aku mencoba lebih ikhlas. Ikhlas menerima dan melepaskan. Menerima jalan yang sudah kupilih sendiri dengan segala lika-liku di dalamnya. Melepaskan sesuatu yang pernah membuatku bahagia. Berusaha menikmati hidupku saat ini.  ~salam

Sadar Kembali

Saat-saat yang berat. Saat seperti inilah aku selalu ingat bahwa aku harus kuat, sabar, dan berjuang semampuku. Menjalani setiap hal dengan sebaik mungkin. Walaupun selama bertahun-tahun aku selalu bertanya kenapa hidupku seperti ini. Sempat merasa minder tidak memiliki keluarga dengan kondisi yang normal. Ibu yang sakit sejak aku sangat kecil, sampai lupa bagaimana ibuku ketika masih sehat. Aku punya ibu, tapi aku tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu sejak kurang lebih 18 tahun yang lalu hingga saat ini di umurku yang ke-21. Makan masakan ibu? Aku belum pernah merasakannya seumur hidupku. Namun setidaknya aku yakin di dalam hati kecilnya, ibu tetap menyimpan kasih sayang untukku, walaupun sekecil butiran debu, tapi aku yakin itu. Dulu saat usiaku remaja, sering sekali kudengar pepatah "Surga ada di bawah telapak kaki Ibu", namun aku selalu menyangkalnya, karena bagiku Bapak lah orang tuaku, ayah sekaligus ibu bagiku. Aku yang menjaga dan merawat ibu termasuk meman...